Sabtu, 26 November 2016

Tumpeng Malam minggu

Percobaan ke-2 jadi euyy... :-D
Teruntuk yang minta hadiah di hari bahagianya. Ini persembahan dari kami (diah dan Jannah), dibuat dengan cinta dan kasih yang amat terdalam. Dan tak lupa oregvora sebagai tanda kita melestarikan budaya ustadz. Ustadz bisa setoran lancar dan selesai 30 Juz makannya oregvora XD
Mumpung malam Minggu kita makan2 bersama.. Semoga sampai pada puncaknya. Allahummaj'alnaa min hifdzil Qur'an. Allahummaj'alnaa min ahlil Qur'an. 30 Juz harga mati, sist... Gak pakai tawar menawar lagi yaa ^^. Teringat kata ustadz, bahwa menghafal bukan untuk kepentingan diri sendiri. Tapi ini kepentingan umat... Semoga Allah istiqamah kan kita :-) jangan lupa tilawah, muroja'ah, dan ziyadah. Bersama kita Bisa.. :-D

#jombloberkualitas

Kamis, 24 November 2016

Kamu boleh saja menutup seluruh pintu. Tapi sisakan satu pintu agar tetap terbuka. Pintu hatimu, tolong jangan dikunci yaa. Berilah masuk setiap kebenaran ayat-ayatNya dalam hatimu. Agar kau tenang. Agar kau bahagia. Dan agar kau menemukan jawaban atas segala tanyamu.
Apakah kamu mengerti?

Senin, 21 November 2016

Memasak

Memasak adalah skill yang tidak wajib seorang wanita bisa. Tapi memasak adalah kebahagiaan bagiku. Memasak adalah tentang mengelola keuangan. Memasak adalah tentang memakan makanan yang sehat. Memasak adalah tentang keanekaragaman makanan.
Nak, makan yang banyak yaa :-)

Meski masakan belum seperti pedagang friedchicken. Tapi apa salahnya mencoba. Ga gagal banget XD hehe maksa

#masaktanpaMSG
#BumbuBuatan

Rabu, 09 November 2016

Do'a yang terjawab

Aku tak pernah menyangka bisa hadir dalam bagian para penghafal Qur'an. Hati yang jujur akan membawa kita pada kenyataan. Untuk bisa hadir ditengah-tengah para penghafal Qur'an pun penuh sekali dengan ujian. Dari segala arah aku menyebutnya. Hingga sering  aku menangis meminta pada-Nya. Kesabaran pun yang akhirnya membuka kan segala pintu untuk bertemu para penghafal Qur'an. Belajar tahsin sejak pertama kuliah. Sering sekali para asatidzah menyebutkan nama seorang ustadz. Dan ustadz ini adalah pengajar para asatidz/ah. Dalam hati pun aku bergumam, "Yaa Allah rasanya ingin sekali belajar sama beliau langsung." hanya gumaman hati yang tak pernah tau akan terjadi atau tidak. Kemudian tanpa diketahui ternyata setelah aku di asrama (Yogya). Allah mempertemukan langsung aku dengan beliau. Dan aku beserta temana2 belajar tahsin dan tahfidz pada beliau. Beliau sudah hafidz Qur'an dan hafalannya sudah di setorkan ke 6 atau 7 syeikh di yaman (agak lupa jumlahnya). Cara mengajar beliau dan mengoreksi bacaan begitu teliti. MasyaaAllah sekali. Dan bahagia bisa belajar ke beliau langsung. Namun, timbul perasaan dan pertanyaan adakah ustadzah yang sudah bersanad?. Karena seringnya yang sudah bersanad itu lelaki. Dan pertanyaan itu hilang begitu saja ditelan waktu. Hingga masa perpindahan dari yogya ke Jakarta. Mukhoyyam quran menjadi tempat perkumpulan para da'iyah yang bercita-cita menjadi hafidzoh. Pembagian kelompok pun tiba. Dan tanpa sadar aku berada di kelompok yang menyeramkan katanya. Ya, karena kelompok ini terdiri dari sebagian Ummahat yang telah menyelesaikan 30 Juz dan ada yang sudah hampir mutqin :'). Ketika duduk serta berkenalan dengan halaqah ini ada hal yang mengagetkan diriku. Pertanyaan yang dulu dipertanyakan kini terjawab sudah. Ternyata ada ustadzah yang sudah bersanad. Dan beliau mencari sanad langsung ke madinah. Hafalan demi hafalan pun ku setorkan kepada beliau. Ada hati merasa ingin mendapatkan sanad juga seperti beliau. Tapi entah akan menjadi nyata atau tidak. Namun, terpenting menyelesaikan hafalan dan menanamnya dalam hati. Maka nikmatmu yang manakah yang kamu dustakan?
Semoga Esok aku juga berharap bisa bertemumu. Entah siapa kamu. Jangan pernah ragu dengan do'a2 :)

Sabtu, 05 November 2016

Persiapan menuju gerbang kehidupan

Ketika Allah karuniakan jodoh di dunia. Maka seorang wanita akan menjadi istri serta sekaligus menjadi ibu. Peran wanita ini menjadi tugas yang harus diembannya. Tidaklah mudah menjadi seorang istri yang shalihah, bila suaminya tidak begitu sabar menghadapinya. Karena karakter wanita yang seringnya banyak bicara, perasa, suka ngambek, dsb. Sikap-sikap ini yang sering muncul begitu saja ketika seorang wanita tak bisa mengelola ego nya dengan baik. Adapun nanti ketika ia memiliki anak, ia memiliki tugas untuk mentarbiyah serta menjadi qudwah bagi anak-anaknya kelak. Mari akhwati fillah kita persiapkan ini. Ya bila tak dikaruniakan jodoh di dunia, semoga tetap terus beramal dengan ilmu yang dipunya. Jadilah, orang yang bermanfaat untuk ummat seperti ibnu Taimiyah. Apa aja yang harus disiapkan?
1. Iman
Ruhiyah menjadi hal yang begitu penting dalam kehidupan ini. Al-qur'an adalah ruh bagi hati. Tanpanya hati ini akan terasa hampa. Dan ibadah-ibadah yang lainpun harus terus ditingkatkan. Al-ma'tsurat yang berfungsi untuk membersihkan hati. Agar hati kita bisa menerima seperti apapun suami kita nanti. Tilawatil Qur'an memiliki fungsi untuk tarbiyah syakhsiyah. Sehingga kita menjadi seseorang yang sabar, ikhlas, mampu mengontrol ego dan emosi, dsb. Qiyamullail menjadi ibadah yang dirutinkan seperti Rasulullah yang tidak pernah meninggalkan qiyamullail. Seseorang yang bangun qiyamullail adalah orang yang memiliki banyak waktu untuk mendekatkan dirinya pada ALLAH. Dan hal penting pada proses dalam meningkatkan ruhiyah yaitu mengharapkan keberkahan hidup.

2. Ilmu
Ilmu merupakan hal yang begitu penting bagi kehidupan ini. Ilmu pun menjadi syarat bagi diterimanya ibadah. Jika seseorang telah mencintai ilmu, maka ia akan bahagia berada di majelis-majelis ilmu. Syeikh Yusuf Qardhawi pernah berkata bahwa seorang wanita di zaman sekarang seharusnya mengikuti khotbah Jum'at. Agar ia selalu bertambah ilmu Syar'i dalam waktu 1 minggu sekali. Dan dulupun ketika zaman Rasulullah SAW., para wanita di fasilitasi setiap hari selasa untuk bisa belajar di majlis bersama Rasulullah. Kalau sekarang mungkin disebut dengan pengajiannya muslimah atau Ummahat. Karena tugas wanita begitu berat maka ia harus terus belajar ilmu Syar'i dan jangan pernah putus. Saya belajar dan mencari tentang ilmu berkeluarga sejak kuliah semester 4. Namun, sampai sekarang selalu merasa banyak yang kurang tentang ilmu berkeluarganya. Ya, memang tidaklah harus sempurna untuk menikah. Karena yang sempurna tandanya sudah menikah (genap). Akan tetapi, perlulah bagi seorang wanita untuk terus belajar agar kelak menjadi keluarga Muslim yang mencintai ALLAH, RasulNya, dan dakwah. Serta mampu mentarbiyah anak-anaknya untuk melanjutkan estafet dakwah Rasulullah SAW.

3. Jasadiyah (fisik)
Muslim yang kuat lebih dicintai Allah daripada Muslim yang lemah. Jadilah wanita yang tangguh. Siap bila harus membersihkan rumah. Siap bila harus menggendong anak. Siap bila harus melakukan banyak hal untuk urusan rumah tangga dan pribadi. Dan kesiapan aktivitas yang lainnya. Sehingga aktivitas yang begitu banyak tidak membuat kita mengeluh. Namun, membuat kita semakin bahagia. Jiwa yang sehat dapat menjadikan hati kita pun sehat. Olahraga pagi-pagi yaak :-)

Ketiga persiapan itu menjadi hal yang harus dipegang. Meski hasil kita tak pernah kita tau seperti apa. Ada sebuah kisah tentang seorang Kakek berusia 82 tahun. Ia menanam bibit di kebutn. Kemudian datang seseorang menghampiri nya dan bertanya"Kakek, sedang menanam?untuk apa Kakek menanam pohon itu sedangkan usia Kakek sudah tua. Kakek belum tentu bisa menikmati hasil pohon itu". Kemudian Kakek itu menjawab dengan senyum, "buah ini yang kita makan sekarang adalah hasil tanam orang zaman terdahulu. Mereka tidak menikmati hasilnya. Tapi kita menikmatinya. Dan sekarang aku menanam bibit. Bila aku tak bisa menikmati hasil tanamanku. Tapi generasi setelah ku bisa menikmatinya". Hikmah yang didapatkan dari kisah tersebut adalah bahwa seseorang yang beriman yaitu yang tidak pernah memikirkan hasil namun ia selalu berusaha. Karena hasil adalah wewenang Allah SWT., wa Allahu 'alam. Ini semua hanya rangkaian pemikiran seorang diah :-D

Sabtu, 08 Oktober 2016

SAMBUTAN BU KIKI BARKIAH SAAT TASMI QUR'AN PUTRANYA, BIKIN MERINDING..

Pd hari jum'at yg penuh berkah kemarin, Ali Abdurrahman, putra teh kiki barkiah berhasil menyelesaikan hafalan qur'annya di pesantren Alhikmah Bogor.

Ali sdh masuk waitinglist di alhikmah Bogor sejak keluarga ini masih tinggal di Amerika. Waktu itu teh kiki sdh menjalin komunikasi dgn alhikmah. Dan alhamdulillah, putra dr pakar parenting ini berhasil mengkhatamkan 30 juz dlm waktu setahun di alhikmah.

Yg istimewa dr acara  tasmi kemarin adlh sambutan teh kiki, beliau menyampaikan isi hatinya utk seluruh santri alhikmah. Jg utk seluruh penghafal qur'an di Indonesia. Berikut ini saya kutip seluruh pidatonya. Yg beliau sampaikan dg penuh semangat, meski sambil dikelilingi oleh putra putrinya. Pidato inipun sdh beliau posting di akun fb nya.

Wahai anakku....
Ketika ummi membaca berita tetang wajah-wajah anak negeri yang begitu memilukan, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat dan melihat ada segelintir pemuda yang hari ini sedang menyibukkan diri untuk menghafal Al-Quran.

Ketika ummi membaca tentang bencana pornografi di negeri ini dimana 92 dari 100 anak kelas 4, 5 dan 6 di negeri ini telah terpapar pornografi bahkan sebagian diantara mereka mengalami kerusakan otak, hati ummi masih tetap optimis menatap masa depan saat mengingat para penghafal Al-quran yang menyibukkan pandangan mereka dengan ayat-ayat Allah dan menjaga mata mereka dari kemaksiatan pandangan.

Ketika ummi membaca berita tetang semakin banyaknya pemuda-pemudi yang terjerumus dalam pergaulan bebas, bahkan anak-anak seusia sd mengalami musibah hamil di luar nikah, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan kecil pemuda penghafal Al-quran yang sedang menyibukkan diri untuk mempelajari agama Allah.

Ketika ummi melihat semakin maraknya anak-anak yang menghabiskan waktu senggang mereka dengan bermain games online, bahkan sebagian diantara mereka membolos dan duduk di warnet sepanjang hari, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segelintir pemuda penghafal Al-quran yang senantiasa menjaga diri mereka dari kesia-siaan.

Ketika ummi melihat semakin marak pemuda-pemudi dengan gaya hidup hedonisme yang bersenang-senang dengan menghamburkan harta orang tua mereka, hati ummi masih optimis menatap masa depan karena ada segolongan pemuda yang hidup dalam kesederhanaan tengah menyibukkan diri menghafal Al-Quran demi mempersembahkan jubah keagungan bagi para orang tua mereka kelak di surga.

Ya.... harapan itu masih ada, sebagaimana Rasulullah SAW menjanjikan bahwa pada akhirnya dunia ini akan kembali damai dan sejahtera saat islam kelak memimpin dunia. Harapan itu masih ada karena ada kalian yang hari ini tetap berada dalam jalan kebaikan meski dunia pada umumnya bergelimpangan kemaksiatan.

Namun anakku.....
Ummi ingin menyampaikan bahwa jumlah kalian sangat sedikit. Kalian adalah orang asing yang tetap baik di tengah lingkungan yang buruk. Maka kelak akan ada sebuah generasi yang penuh kerapuhan dan kebobrokan menjadi tanggung jawab yang dipikul diatas bahu-bahu kalian.

Wahai anakku....
Maka menghafal Al-Quran saja tidak cukup. Ini hanyalah sebuah bekal dasar yang akan menguatkan kalian berjuang memimpin dunia ini menuju kebaikan.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran....
Negeri kita, negeri Indonesia tengah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kekayaan kita habis dikeruk dan digali tetapi tak banyak memberikan kesejahteraan bagi para penduduknya. Ketidakmampuan kita untuk mengolah secara mandiri menyebabkan harta kekayaan kita dikelola oleh campur tangan asing. Namun sayangnya, kekayaan alam itu lebih banyak mensejahterakan pengelolanya dibanding mensejahterakan negeri ini secara lebih merata. Gunung emas kita di papua dikeruk, tetapi hasilnya tak mampu menghilangkan bencana kelaparan di setiap penjuru negeri ini. Gas bumi di negeri kita mengalir keluar, namun tak sepenuhnya membuat rakyat semua sejahtera dan mudah membeli sumber energi. Minyak bumi dan sumber energi lainnya hampir habis, tapi hasilnya tak juga mampu membuat semua anak negeri ini mengenyam pendidikan yang baik. Laut kita begitu luas namun ikan-ikan di negeri kita banyak dicuri, bahkan kekayaan ikan kita tak mampu membuat negeri ini terbebas dari becana gizi buruk.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran
Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan? Kepada mereka yang hari ini sibuk nongkrong di warnet? Atau kepada mereka yang hari ini sibuk bercengkrama di warung kopi sambil mengisap rokok atau shabu-shabu? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini di masa depan wahai anakku para penghafal Al Quran? Kepada mereka yang memenuhi klub malam? Atau kepada mereka yang menyibukkan diri menonton sinetron? Kepada siapa lagi kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang otaknya telah rusak karena pornografi? Atau kepada mereka yang hari ini tengah sibuk berpacaran? Kepada siapa lagi wahai anakku, kami menitipkan negeri ini? Kepada mereka yang belajar demi nilai-nilai indah dalam rapot mereka? Atau kepada mereka yang hanya sibuk mementingkan kesuksesan diri?

Wahai anakku..... negeri ini kehilangan banyak generasi peduli. Ghirah mereka mati, dengan kesibukan sekolah dari pagi hingga sore hari. Kepedulian mereka hilang, karena asiknya bermain games online perang-perangan. Jangankan mereka sempat berfikir tentang nasib umat muslim di sebagian belahan bumi, atau rusaknya bangsa ini karena budaya korupsi. Bahkan untuk peduli tentang kebutuhan diri mereka harus selalu dinasihati. Lalu kepada siapa lagi kami titipkan masa depan negeri ini? Sementara jiwa pejuang "merdeka atau mati" yang membuat negeri ini memerdekakan diri semakin hilang di hati para santri. Kepekaan para santri dalam beberapa dekade ini dikebiri sebagai bagian dari rencana konspirasi. Mereka begitu takut!!! Mereka begitu terancam jika jiwa para santri bergelora seperti jaman perang kemerdekaan dulu. Mereka berencana sedemikian rupa agar santri berada dalam zona aman saja. Mengajar mengaji, menghafal Al-quran dan mengajar agama saja. Sementara mereka berjaya dengan penuh kuasa, mengatur ekonomi dengan semena-semena.

Wahai anakku para penghafal Al-Quran!!!!!
Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrab kalian saat Al-Quran telah tersimpan dalam dada. Pergilah engkau mencari ilmu diseluruh penjuru dunia dan jadilah engkau para ulama. Seagaimana ulama-ulama di masa dulu mengerti agama dan pemahamannya berbuah menjadi karya nyata yang bermanfaat untuk umat manusia. Wahai anakku para penghafal Al-Quran, masalah ummat ini tak mampu di bayar dengan Al-Quran yang hanya disimpan dalam dada sendiri saja. Pergilah engkau dan masuklah dalam setiap peran kekhalifahan di muka bumi ini. Jadilah sngkau penguasa adil dan pemutar roda perekonomian dunia. Bila tidak engkau yang memainkan peran dalam panggung dunia, maka mereka yang tak paham agama yang akan memainkannya. Relahkah engkau membiarkan Al-Quran yang tersimpaan dalam dada sekedar menonton panggung dunia?

Wahai anakku... para penghafal Al-Quran!!!
Keluarlah!!! Keluarlah dari masjid, mushola dan mihrob kalian saat Al-Quran telah tersipan dalam dada. Agar dunia ini dipimpin oleh segolongan kecil pemuda yang luar biasa. Lipatgandakan kekuatan kalian hari ini sebelum engkau memimpin dunia. Karena pemuda-pemuda kebanyakan di masa kini adalah PR-PR mu di masa depan nantinya. Keluarlah anakku... setelah Al-Quran tersimpan dalam dada. Jadilah engkau pejuang yang merealisasikan nubuwat Rasul-Mu bahwa kelak islam akan memimpin dengan manhaj ala Rasulullah sebelum kiamat tiba. Anakku... jadilah engkau salah satu pejuangnya!

ALLAHU AKBAR!!!!!

Parung Bogor 7 Okt 2016

Kamis, 06 Oktober 2016

Al-Qur'an itu pencemburu. Cintanya tak bisa di duakan. Seperti aku yang memiliki rasa yang sama dan tak ingin diduakan. Sekali saja pikiran berpaling ke hal yang lain, tiba-tiba hafalan yang telah di hafalpun lupa. Atau ketika kita sedang menghafal kemudian ada yang mengajak ngobrol. Maka lupa pula hafalan kita. Ya, mencintainya sepenuh hati. Nasihat dari ustadz Abdul Aziz yaitu seseorang yang siap menghafal adalah orang yang mencintai-Nya.. Sudahkah kita mencintai-Nya?

Kata bapak, "satu setengah tahun ya teh". Semoga menjadi pengingat dan motivasi untuk terus istiqamah. 

Bersyukur dan bersabar atas segala pemberianNya saat ini...

Selamat Berjuang mendapatkan cinta-Nya.. Setiap kita memiliki jalannya masing-masing. Setiap kita memiliki takdirnya masing-masing. Termasuk saat pertemuan kita dengan jodoh kita. Entah itu di dunia atau di akhirat.. :-)